"selamat membaca tulisan yang disuguhkan tuk semua pembelajar sejati yang mengunjungi blog sederhana ini, thank's for visiting my blog"

Minggu, 02 Juli 2006

Apa yang Dapat Kulakukan untukmu, Saudaraku…?

No body Is Perfect _ famous term

Hal ini pasti menjadi dasar ketika kita “memandang” karakter ataupun dalam mengevaluasi kerja-kerja para pelaku dakwah. So... NIP. Selain Allah yang Haq.


Saat kita bersemangat, memiliki level iman yang stabil atau sedikit lebih baik, kita seolah-olah melihat saudara kita pun seperti kita. Menerapkan standar stabilitas keimanan kita kepada saudara-saudara kita, atau bahkan adik (ikhwah baru) kita. Maka, ketika kondisi saudara kita tidak stabil, sedang mengalami fluktuasi iman, futur, kita pun menganggapnya sebagai kader manja. Kita melihatnya dengan perspektif berbeda dengan apa yang dirasakannya atau yang dibutuhkannya. Kita yang stabil memaksa agar ia bisa survival bertahan di garis keimanan. Sehingga kita tidak merasa terlalu perlu untuk memberinya nasihat, atau motivasi-motivasi keimanan. Sementara betapa ia butuh sentuhan-sentuhan perhatian kita.
Kita berpikir bahwa suatu saat, kita akan hidup sendiri tanpa seorang ikhwah yang menemani di suatu daerah. Sehingga kita mengira bahwa kita harus bersiap-siap untuk hal tersebut. Maka ketika ada seorang yang futur, kita bersikap seolah-olah tidak peduli padanya. Dan ketika dia benar-benar mengucapkan “selamat tinggal”, kita menyalahkannya atas kelemahannya. Kita menyelamatkan diri atas kesalahan dari futurnya saudara, dengan hiburan-hiburan bahwa ini adalah sunatuddakwah.
Tidak sedikit kita dengar kisah-kisah futurnya ikhwah dari barisan ini setelah tarbiyah bertahun-tahun. Bukan hal yang mengejutkan memang, ulama bahkan ada yang murtad, berganti haluan, ustadz pun ada yang terjatuh, saat tergiur dengan indahnya dunia. Kehilangan seorang yang telah memiliki kepahaman dan mobilitas dakwah yang tinggi, apakah bisa diganti dengan masuknya 50 orang baru dalam barisan ini, tanpa kepahaman dan aksi dakwah yang mapan? Lepasnya seorang kader produktif apakah bisa ditutupi dengan hiburan bahwa 50 baru orang yang baru-baru mengikuti daurah tahap awal, dengan produktifitas dakwah yang masih nol?
Mungkin ada rasa marah ketika melihat saudara kita melakukan kesalahan, tapi bukan berarti tidak ada pintu untuknya kembali dalam hangat nuansa ukhuwah, indahnya berjuang bersama dan nikmatnya munajat di sepertiga malam terakhir bukan…?! Seberapa besar kontribusi kita untuk membantu saudara kita yang tengah mengalami fluktuasi iman, bias jadi suatu saat kita mengalami hal yang sama….. Seberapa sering namanya kita sebut dalam munajat di sepertiga malam terakhir? Sudah berapa tausiyah yang kita berikan kepadanya? Apakah kita hanya bisa men-judge tanpa memberi solusi atau hanya bisa membicarakannya di belakang kita padahal belum tentu amal kita lebih baik darinya. Sudahkan kita menanyakan padanya hari ini “apa yang dapat kulakukan untuk menahanmu di sini, saudaraku….tetap berada di jalan dakwah ini….??”

laut_biroe@duka,300606 (untuk seorang sahabat: ana ikhlas jika taujih maupun segala upaya untuk menahanmu di jalan ini harus di bayar dengan kehilangan seorang sahabat jika itu bisa menjadi mahar agar engkau tetap berada di sini, di jalan dakwah yang mulia ini… Bagi ana kehilangan seorang sahabat jauh lebih baik-meskipun sakit-, daripada dakwah ini harus kehilangan orang se-potensial antum…. Jika ana tidak bisa lagi “mencuri” gagasan dan mimpi-mimpi besar yang sering antum lontarkan, sungguh….itu jauh lebih baik-meski pedih-, daripada dakwah ini yang kehilangan ide-ide cemerlang antum….)

Catatan Penting : “No Body is Perfect”, “Kita Bukan Malaikat” atau kalimat sejenis jangan dijadikan justifikasi bagi mereka yang sedang mengalami fluktuasi keimanan!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar