"selamat membaca tulisan yang disuguhkan tuk semua pembelajar sejati yang mengunjungi blog sederhana ini, thank's for visiting my blog"

Rabu, 28 Januari 2009

Merampas Hak Orang Lain?

Pernah ga pas lagi ngantri truz tiba-tiba diserobot secara semena – mena dengan orang lain? Kalau ada yang belum pernah ngerasa, aku coba kasi tau gimana rasanya; keseeeeeel, sebeeeeeeel plus dongkol setengah mati!


Suatu hari aku terpaksa membayar tagihan telfon ku ke kantor pos besar, siang hari bolong dan belum makan siang. Di depanku ada dua orang yang mengantri, pas tiba giliranku tiba-tiba ada bapak berseragam dinas kesehatan yang nyerobot antrianku. Pastinya ga rela dunk klu hak aku dirampas gitu aja, jadi spontan aku nyeplos; ”maaf Pak, kaya’nya saya duluan deh yang antri” dengan nada yang kubuat sesopan mungkin meski dongkol luar binasa eh,luar biasa...hehe... Bukannya minta maaf, tuh bapak malah cuek aja dan langsung menyebutkan nomer telfonnya ke petugas kantor pos. Apa hendak dikata, petugasnya juga bukan belain aku eh....malah langsung melayani tuh bapak berseragam. Nyebelin banget kan? Seorang teman juga pernah bercerita penngalamannya ketika antri si sebuah restoran ternama, padahal waktu itu antrian begitu panjang tiba-tiba ada seorang pelanggan yang baru datang (berseragam polisi lengkap, entah apa pangkatnya), langsung pesan bebek panggang dan si pelayan restoran langsung memberikan apa yang dipesan.
Tapi aku bukan pengen curhat tentang rasa kesal yang aku rasain coz didzolimin, dianiaya... Coba kita cermati sikap bapak berseragam tadi dan petugas kantor pos. Ketika hak kita dirampas oleh orang lain, hampir bisa dipastikan kita akan protes agar kita bisa mendapatkan apa yang menjadi hak kita. Tapi ketika kita ada di posisi petugas kantor pos atau bapak berseragam itu, apa kita akan tetap berupaya untuk mengembalikan hak orang lain?
Jadi inget pas lagi beli sarapan tadi pagi, ketika aku sampai di warung langgananku, udah ada seorang remaja dan dua anak kecil yang antri duluan dan karena kakak pemilik warung lagi beli kertas makanan akhirnya kami menunggu cukup lama. Dan dua anak kecil tadi di minta oleh si remaja tadi untuk memanggilkan si kakak. Dua anak tadi pun pergi memanggil si penjual dan taukah kalian siapa yang lebih dulu dilayani? Bukan...bukan dua kakak beradik yang sudah antri lebih dulu, bukan anak kecil yang udah manggilin si kakak agar pelanggannya ga kabur. Apa karena mereka anak kecil sehingga orang dewasa punya hak yang lebih besar dibandingkan seorang anak kecil? Satu kali hak mereka dirampas hari ini.
Ketika tiba giliran mereka, eh....si kakak malah bertanya padakku, ”mbak mau beli apa?”. aku ga mau dunk merampas hak orang lain, anak kecil lagi.... jadi aku tolak dengan halus kebaikan si kakak, sekaligus mengadvokasi si kakak untuk lebih menghargai hak orang lain meskipun anak kecil. ”Yang duluan ngantri kan adek-adek ini kak, ambilin punya mereka aja dulu”. ”ga papa koq, mereka keponakan kakak”, nah loh apa hubungannya gumamku dalam hati? Setengah mendesak aku meminta agar anak kecil itu didahulukan tapi tetap saja yang dilayani lebih dulu. Kali kedua hak anak-anak itu dirampas hari ini.
Begitu banyak potret perampasan hak di negeri kita ini, kawan... Mungkin itu terjadi karena contoh yang diberikan oleh para pemimpin negeri ini. Orang tua yang seharusnya jadi panutan malah memberikan pelajaran yang buruk pada orang yang lebih muda, terlebih lagi beliau orang ”berseragam” yang bisa dikategorikan orang yang berpendidikan tapi malah ga punya attitude. Sedangkan petugas kantor pos yang sebenarnya punya wewenang mengembalikan yang seharusnya menjadi hak pelanggan yang lain malah melakukan justifikasi perampasan hak yang terjadi di depannya. Pemimpin yang harusnya jadi kebanggaan rakyatnya malah memberikan kontribusi negatif bagi generasi penerus bangsa. Perampasan hak yang merupakan kejahatan lama kelamaan menjadi pemandangan sehari-hari dan terjadi di semua kalangan, akhirnya menjadi suatu hal yang biasa dan bisa dimaklumi. Dapat dipastikan yang lebih lemah pasti menjadi korban. Sekarang tinggal kita yang memilih, akan ikut dalam arus yang ada atau mencoba bersikap adil sekecil apapun peran kita? Perubahan itu ada di tangan kita; kamu dan aku, kawan.....

Selengkapnya...

Senin, 26 Januari 2009

Jujur; Bukan Barang Langka!

Lagi di lampu merah, gerimis rasanya tak kunjung reda..ku ambil saputangan untuk menutupi wajah. Dua orang anak kecil sibuk menjajakan koran di tengah rintik hujan, mereka berlalu menjauhiku..mencoba menawarkan dagangannya pada kendaraan di belakangku. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka sudah berada di depanku sambil menyodorkan selembar uang lima ribuan, sambil berkata; ”Mbak, uangnya jatuh”.

Lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau, aku pun segera berlalu sambil mengucapkan terima kasih pada adik yang mengembalikan uangku yang terjatuh saat mengambil sapu tangan dari saku jaketku. Aku kemudian berfikir, ternyata masih banyak juga orang yang jujur. Padahal adik tadi bisa saja mengambil uang yang terjatuh itu tapi dia lebih memilih mengembalikannya padaku, kondisi ekonomi yang mungkin tidak begitu baik mungkin bisa jadi justifikasi.
Aku hanya bisa membalas kebaikan adik tadi dengan doa, agar dia mendapatkan rezaki dari arah yang tidak disangka-sangka dengan cara yang istimewa dan dengan jumlah yang tak terkira untuk ukurannya,amiin.... Pastinya, hanya Allah yang dapat mengganjar setiap amal kebaikan yang kita lakukan, sekecil apapun dengan balasan yang sepadan dengan keikhlasan kita melakukannya.

Selengkapnya...

Jumat, 16 Januari 2009

Amal Unggulan

“Aku meniti jembatan siratul mustaqim, alhamdulillah aku berhasil melaluinya. Jembatan itu benar-benar kecil, di bawanya aku mendengar orang-orang berteriak dan kebanyakan adalah suara wanita. Lalu aku berada di sebuah taman yang keindahannya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata, bunga-bunganya teramat bagus tidak sebagus bunga-bunga yang ada di dunia….”

Subhanallah….Allahu Akbar….bulu kudukku berdiri mendengar temanku bercerita tentang teman kuliahnya yang sering bermimpi tentang hal-hal yang bisa menguatkan iman dan motivasi kita untuk meraih Syurga. Mungkin kita termasuk orang-orang yang sering meminta pada Allah agar diberikan mimpi yang begitu indah, tapi kita belum berkesempatan untuk mendapatkannya.
Teman dari sahabatku ini bukan termasuk orang yang punya amalan harian yang “terjaga” seperti komunitas orang-orang yang mungkin kita anggap baik. Membaca Qur’an saja beliau masih terbata-bata, bahkan belum pernah khatam Qur’an sampai sekarang. Terang saja semua yang mendengar cerita sahabatku ini penasaran, amal apa gerangan yang membuatnya begitu sering mendapatkan mimpi-mimpi indah itu. Sahabatku tak memberikan jawaban yang pasti, karena sepengetahuannya tidak ada amal yang istimewa darinya. Tapi kemudian ia ingat bahwa temannya itu tak pernah lepas dari dzikir, “mungkin itu yang membuatnya istimewa di hadapan Allah”.
Apapun amal unggulannya, kawan….pastilah ada kebaikan yang beliau lakukan dengan segenap keikhlasan sehingga membuat Allah jatuh cinta padanya. Oleh karenanya kawan, beramallah dengan sebaik-baik amal dan keikhlasan karena kita tidak pernah tau, amal mana yang akan menghantarkan kita ke syurga. Mari kita melakukan kebaikan, beramal dan terus beramal…..untuk bekal menuju kampung yang abadi. Wallahu’alam wastaghfirullah…..

Selengkapnya...

Rabu, 14 Januari 2009

Dalam Bimbang

Ada kalanya kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang menempatkan kita pada posisi yang begitu dilematis…. Ketika sebuah keputusan menentukan perjalanan hidup kita ke depan. Tentu saja tak cukup dengan kecerdasan untuk menghasilkan keputusan yang bijaksana dibutuhkan kehalusan intuisi, bashirah yang tajam untuk menggabungkan seluruh aspek yang menjadi paduan yang sempurna dalam kebijaksanaan sebuah keputusan.


Sesuatu yang kita anggap baik untuk kita ternyata belum tentu itu adalah hal yang tepat dan terbaik untuk kita. Yang baik belum tentu tepat, tapi insyaAllah yang tepat adalah hal yang juga baik untuk kita. Apalagi jika Allah yang memilihkan sendiri untuk kita. Bukankah yang terpenting adalah keberkahan Allah?!
Kadang kita dikecohkan oleh godaan syaitan yang ingin membelokkan jalan seorang hamba Allah yang tengah berusaha mendaki tangga-tangga spiritual dalam kehidupannya, saat itulah komitmennya diuji, ketangguhan imannya dipertaruhkan. Dan tak hanya perjuangan kita saja yang menentukan, kadang lantunan doa dari lisan-lisan yang tak kita ketahui menjadi bantuan luar biasa yang akan membuat Allah memberikan petunjuk dalam dilema yang dihadapi dalam mengambil keputusan penting dalam hidup kita.

”Rabb, terimakasih atas begitu banyak sahabat dan orang-orang yang mencintai hamba yang selalu mengingat hamba dalam lantunan do’a yang mereka panjatkan padaMU”.

Selengkapnya...

Nikmat Allah yang Mana yang Hendak Kau Dustakan?!

Tak hanya tawa, bahagia, sukses saja yang akan kita alami dalam hidup, tapi akan ada airmata, luka, perjuangan, kekurangan, kecewa,, kegagalan dan hal-hal yang kita anggap tidak menyenangkan untuk dialami. Tapi Allah telah menciptakan bumi dan seisinya dengan hal positif dan negatif, ada tawa begitu pula ada tangis, ada bahagia ada pula duka, ada kesuksesan dan ada juga kegagalan dan semuanya adalah sinergi yang indah kawan...
Seperti indahnya pelangi yang muncul sesaat setelah hujan. Karena airmata tak abadi, begitu pula dengan tawa..... ketika kita menangis hari ini, yakinlah akan ada bahagia di ujung sana jika kita bersabar dan bersyukur. Bagitu pula jika kita tertawa hari ini, jangan senang dulu kawan...coba bersabarlah dalam kesenangan karena semua yang ada di dunia ini tak akan abadi. Ada sesuatu yang abadi setelah ini, di mana kesenangan dan kesusahan yang akan kita rasakan akan abadi, tak berujung.....
Karenanya kawan, jangan terpedaya dengan apapun yang tengah kita rasakan sekarang.... jangan terlena dengan kebahagiaan yang mungkin tengah kita rasakan kini, dan jangan larut dalam kesedihan yang mungkin tengah mendera kita karena kita harus mempersiapkan diri untuk sesuatu yang abadi, jangan sampai kita lalai untuk mempersiapkan kehidupan abadi itu. Syukurilah apapun yang kita rasakan hari ini atau mungkin esok dan selalu bersiaplah untuk rasa yang abadi, tentunya kita semua mengharapkan kenikmatan dan kebahagiaan abadi di SyurgaNYA kelak.

”Rabb, pertemukan hamba dengan orang-orang yang kucintai di taman SyurgaMU kelak, bersama-sama menikmati kebahagiaan yang kekal,amiin....”
Selengkapnya...

Masker Cabe

Bingung baca judulnya? Simak aja cerita ini, kawan......

Entah kapan tepatnya aku pernah menyarankan adikku untuk menggunakan masker cabe untuk perawatan wajah, tentu saja ini bukan saran sungguhan melainkan hanya becandaan saja. Dan pastinya ga ada yang mau menggunakan cabe untuk masker, kecipratan sedikit aja panasnya bukan main. Tapi akhirnya aku merasakan bagaimana rasanya maskeran pake cabe. Lagi-lagi ini bukan sungguhan, kawan...tapi hanya kiasan saja. Ketika aku menjalani perawatan untuk mengobati jerawat yang kian meraja lela di wajahku ini, pada tahapan kedua aku disarankan oleh dokter kulit yang merawatku untuk melakukan ’peeling wajah’ agar flek-flek yang ditimbulkan akibat bekas jerawat bisa hilang dan aku mengikuti saran bu dokter.
Aku fikir peeling wajah yang akan dilakukan sama saja seperti yang dilakukan di Ummi Baiti (salon tempat biasa aku facial). Namun setelah wajahku dibersihkan ada hal yang aneh, mbak yang ngerjain wajahku mulai memasang kipas angin tepat di depan wajahku dan bu dokter kemudian duduk serta memeriksa wajahku. Aku mulai curiga dan memutuskan untuk bertanya ”Dok, yang ini ga sakit kan?” bu dokter dengan santai menjawab ”enggak koq mbak, hanya panas dan pedih sedikit makanya dipasangin kipas ntar kalau udah selesai dikompres pake air dingin”. Weeks.......aku hanya bisa pasrah, masih kebayang perawatan pertama yang sakitnya bukan main. Bu dokter mulai mengaplikasikan cairan di wajahku, mulai menghangat.....kemudian menambahkannya lagi, terasa semakin panas dan pedih. ”tahan ya, diolesin sekali lagi” dan benar saja rasanya semakin panas.........seperti menggunakan masker cabe............!!!!!! (sampe pengen nangis nahannya.......).
Dalam hati aku berjanji, ga akan gratil dan iseng lagi mencet jerawat karena ngobatinnya sakiiiiiit banget. Dan untukmu yang membaca tulisanku ini, rawatlah wajahmu sebagai bukti syukurmu pada Allah yang telah memeberikan kulit yang sehat dan bersih. Jangan pernah gatel untuk mencet jerawat yang tumbuh secara sporadis karena akan memperparah kondisinya, segera saja konsultasi ke dokter kulit jika kemudian jerawat di wajahmu beranak pinak tak karuan. Jangan sampe ngrasain masker cabe untuk mengembalikan wajah sehatmu seperti semula. Karena aku telah merasakannya, kawan.... dan rasanya sakit buangeeet booooo.......!!!!

Selengkapnya...

Kamis, 08 Januari 2009

Saat Asa Tak Harus Jadi Nyata

”Saat Allah menjawab do’a kita, Dia menambah iman kita. Saat Allah belum menjawab do’a kita, Dia menambah kesabaran kita. Saat Allah menjawab yang bukan do’a kita, Dia tengah memilihkan yang terbaik untuk kita”.
”Saat Allah menjawab do’a kita, Dia menambah iman kita. Saat Allah belum menjawab do’a kita, Dia menambah kesabaran kita. Saat Allah menjawab yang bukan do’a kita, Dia tengah memilihkan yang terbaik untuk kita”.
Sungguh indah taujih yang diberikan oleh seorang sahabatku ini. Begitu dalam maknanya, begitu menghibur dan membesarkan hati yang kadang lupa dan sulit menerima suatu hal yang telah ditetapkan oleh Allah dan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Kecewa? Pasti, itu hal yang manusiawi dan lumrah. Karena kita masih manusia normal yang dikaruniai dengan cita, rasa dan karsa oleh Sang Pencipta.
Memang bukanlah hal yang mudah menerimanya, Kawan.... Apalagi jika itu adalah sesuatu yang sangat kita harapkan dan telah kita ikhtiarkan semaksimal mungkin dengan segenap kekuatan yang kita miliki. Pasti terasa menyakitkan...bahkan kadang menyesakkan dada sehingga rasanya begitu sulit untuk bernafas.
Hanya keyakinan bahwa Allah tengah memilihkan yang terbaik untuk kita dan keikhlasan menerima setiap ketetapanNya lah yang dapat membuat kita tetap berusaha untuk berdiri, melangkah setapak demi setapak dan berusaha kembali berlari. Dan keihklasan, adalah kata sederhana yang begitu sulit dilaksanakan tapi kita harus bisa. Karena tak ada pilihan lain yang membuat kita menjadi lebih baik, Kawan.
Seringkali hal-hal yang diluar harapan membuat kita hilang kesadaran, melakukan hal-hal aneh di luar kebiasaan kita, air mata menngalir tak mau berhenti, menyiksa diri dengan penderitaan yang kita ciptakan sendiri. Tapi percayalah Kawan, ada hikmah besar.....rahasia indah.....rencana Allah yang begitu sempurna yang tak sanggung kita urai dengan sgala keterbatasan akal yang kita miliki. Yakinlah bahwa ketika Allah menjawab yang bukan do’a kita, saat itu Allah tengah memberikan yang terbaik untuk kita.

”Yakinlah ukhti, jangan ada ragu..... Dia tengah memberikan sesuatu yang indah padamu dan syukuri serta nikmatilah hadiah itu, ukhti...... No more tears, just smiling......”
Selengkapnya...

Rabu, 07 Januari 2009

Sahabat Kecil

Baru saja berakhir
Hujan di sore ini
Menyisakan keajaiban
Di lawang indahnya pelangi


Tak pernah terlewatkan
kan tetap mengagumimya
Kesemptan seperti ini tak akan bisa di beli

Bersama mu ku habiskan waktu
Senang bisa mngenal diri mu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya

Melawan keterbatasan
Walau sedikit kemungkinan
Takkan menyerah untuk hadapi
Hingga sedih tak mau datang lagi

Bersama mu ku habiskan waktu
Senang bisa mengenal diri mu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya

Janganlah berganti...
Tetaplah seperti ini.....

(diambil dari lirik "Sahabat Kecil" Ipang)


Selengkapnya...