"selamat membaca tulisan yang disuguhkan tuk semua pembelajar sejati yang mengunjungi blog sederhana ini, thank's for visiting my blog"

Kamis, 07 Juli 2005

Manusia-Manusia Langit

Memaknai idealita yang kadang tak dapat berdamai dengan realita sungguh merupakan proses pembelajaran yang cukup sulit bagiku. Ketika hampir setiap pekan dalam dalam forum halaqoh aku mengetahui konsep idealita yang harus dibangun dalam proses tegaknya kalimat Allah di muka bumi namun begitu kaki ini beranjak keluar dari forum halaqoh menuju pos-pos dakwah tempat mengaplikasikan konsep idealita yang kudapat sering kali realita yang kutemui tak seindah yang seharusnya terjadi.
Misalnya saja tentang cara bercandanya para ikhwan yang mungkin saking pengen akrabnya kadang kebablasan dengan canda yang gak syar’i. Bukankah Rasulullah sendiri meberi contoh bahwa canda itu sah-sah saja asal tidak mengandung kebohongan,tidak menyakiti hati orang lain dan tidak mengandung unsur kemungkaran. Atau tentang cara para ikhwan menghargai saudaranya, sering kali kudengar mereka diskusi entah ketika rapat atau pun diskusi lepas ketika berkumpul, jarang sekali ku dengar diskusi yang “nadanya” enak didengar. Yang ada adalah debat yang sering kali tidak memperhatikan adab; kadang menjatuhkan, memotong pembicaraa saudaranya, sampai terkadang memojokkan (meski mungkin tak bermaksud seperti itu) namun itulah yang terjadi. Hhmmm...apa mungkin aku yang terlalu membesarkan masalah?! Tapi bukankah dalam berdebat pun dalam Islam ada adabnya….?!?!?!
Kasus lain adalah tentang amanah dakwah yang harusnya di pikul bersama oleh para rijalud dakwah, namun kenyataannya banyak sekali kader yang memang harusnya ikut mengambil bagian dalam kerja-kerja jama’i ini tapi mereka malah membiarkan saudaranya yang mengambil bagian itu, padahal orang yang mengambil bagiannya telah memikul amanah di pundak kiri dan kanannya. Kemana konsep amal jama’i….?!?! Aahhh….husnudzon saja, mungkin mereka telah mengambil bagian di wilayah dakwah yang lain. Tapi kenyataannya mereka tak ada di mana-mana……!!!! Tetap husnuzdon saja, mungkin amanahnya tidak dzohir……..
Berbagai realitas yang ku hadapi memunculkan sebuah pertanyaan besar; kemana materi-materi tarbiyah yang selama ini di dapat? Apa mungkin hilang tanpa bekas….?!?! Memang banyaknya materi yang di dapat atau lamanya tarbiyah seseorang tidak menjamin kefahamannya terhadap Islam dan harokah, tapi setidaknya ada atsar dari apa yang telah didapatkan dalam proses panjang tarbiyah (entahlah…..aku pun tak mampu berkata banyak, hanya mampu berharap aku termasuk orang yang diberi keistiqomahan berpijak dalam jalan dakwahNya sampai kemuliaan syahadah menjemput….)
Kualitas jama’ah ini sangat bergantung pada kualitas kader yang berada dalamnya. Aku tak ingin hanya mengeluh dan merasa tidak puas tapi bagaimana apa yang selama ini membuatku tak puas maupun menjadi pemacu untukku bergegas….terus dan terus melakukan perbaikan diri, mungkin aku tak mampu berbuat banyak untuk merubah orang lain tapi aku akan terus berusaha membenahi diri dan menjadi solusi bagi orang lain, tak hanya sekedar menjadi problem speaker. Karena aku adalah bagian dari dari jama’ah bagian dari masa depan dakwah. Dan komitmen pada nilai-nilai Islam yang selama ini ditanamkan dalam setiap pertemuan halaqoh adalah jawaban..!!!

"Rabb…..izinkan aku menjadi bagian dari manusia-manusia langit, komunitas yang berorientasi pada langit. Manusia yang berorientasi akhirat yang berada di bumi. menjadi manusia langit, yang dengan sayapnya dapat meringankan beban bumi… yang dengan biru lembutnya memberi keteduhan……. Namun sekokoh apapun manusia langit, tanpa Rabbnya dia bukan apa-apa……"

Selengkapnya...

Rabu, 07 Juli 2004

Cinta Bersemi Di Pelaminan

Lupakan! Lupakan semua cinta jiwa yang tidak akan sampai ke pelaminan. Tidak ada cinta jiwa tanpa sentuhan fisika. Semua cinta dari jenis yang ini yang tidak berujung dengan penyatuan fisik hanya akan mewariskan penderitaan bagi jiwa. Misalnya yang dialami Nashr bin Hajjaj di masa Umar bin Khattab.

Ia pemuda paling ganteng yang ada di Madinah. Sholeh dan kalem. Secara diam-diam gadis-gadis di Madinah mengidolakannya. Sampai suatu saat Umar mendengar seorang perempuan menyebut namanya dalam bait-bait puisi yang dilantunkannya di malam hari. Umar pun mencari Nashr. Begitu melihatnya, Umar terpana dan mengatakan, ketampanannya telah menjadi fitnah bagi gadis-gadis Madinah. Akhirnya Umar pun memutuskan untuk mengirimnya ke Basra.
Di Basra ia bermukim pada sebuah keluarga yang hidup bahagia. Celakanya, Nashr justru jatuh cinta pada istri tuan rumah. Wanita itu juga membalas cintanya. Suatu saat mereka duduk bertiga bersama sang suami. Nashr menulis sesuatu dengan tangannya di atas tanah yang lalu dijawab oleh sang istri. Karena buta huruf, suami yang sudah curiga itu pun memanggil sahabatnya untuk membaca tulisan itu. Hasilnya: Aku cinta padamu! Nashr tentu saja malu karena ketahuan. Akhirnya ia meninggalkan keluarga itu dan hidup sendiri. Tapi cintanya tak hilang. Dan ia menderita karenanya. Sampai ia jatuh sakit dan badannya kurus kering. Suami perempuan itu pun kasihan dan menyuruh istrinya untuk mengobati Nashr. Betapa gembiranya Nashr ketika perempuan itu datang. Tapi cinta tak mungkin tersambung ke pelaminan. Mereka tidak melakukan dosa, memang. tapi mereka menderita. Dan Nashr meninggal setelah itu.
Itu derita panjang dari sebuah cinta yang tumbuh di lahan yang salah. Tragis memang. Tapi ia tak kuasa menahan cintanya. Dan ia membayarnya dengan penderitaan hingga akhir hayat. Pastilah cinta yang begitu akan jadi penyakit. Sebab cinta yang ini justru menemukan kekuatannya dengan sentuhan fisika. Maka intens sentuhan fisiknya, makin kuat dua jiwa makin tersambung. Maka ketika sentuhan fisik menjadi mustahil, cinta yang ini hanya akan berkembang menjadi penyakit.
Itu sebabnya Islam memudahkan seluruh jalan menuju pelaminan. Semua ditata sesederhana mungkin. Mulai dari proses perkenalan, pelamaran hingga mahar dan pesta pernikahan. Jangan ada tradisi yang menghalangi cinta dari jenis yang ini untuk sampai ke pelaminan. Tapi mungkin halangannya bukan tradisi. Juga mungkin tidak selalu sama dengan kasus Nashr. Kadang-kadang misalnya, karena cinta tertolah atau tidak cukup memiliki alasan yang kuat untuk terus dilanjutkan dalam sebuah hubungan jangka panjang yang kokoh.
Apapun situasinya, begitu peluang menuju pelaminan tertutup, semua cinta yang ini harus diakhiri. Hanya di sana cinta yang ini absah untuk tumbuh bersemi; di singgasana pelaminan.

Rubrik Thumuhat, Tarbawi edisi 122 Th.7
Selengkapnya...

Secercah Asa

Aku bertanya kepada generasi ini…..
Baik engkau, aku dan siapa saja yang mengakui dirinya muslim – mu’min
Mengapa tak muncul juga sekelompok singa yang sanggup mengguncang dunia
Adalah mereka yang pertama mengimani Rasul terakhir itu….
Yang menjadi tulang punggungnya dan siap mengikuti jejak perjuangannya


Mari renungkan kembali apa yang telah mereka korbankan…..
Derita siksa hilangnya harta dan terbunuhnya orang-orang tercinta
Dan kadang jiwa mereka sendiri yang melayang….
Mu’min teladan yang tulus mengabdi kepada Islam
Pencetus revolusi terbesar sepanjang sejarah manusia

Wahai aku, wahai engkau……
Apa bedanya kita dan mereka,
Segumpal darah dan daging kita adalah segumpal darah dan daging mereka juga
Qur’an dan hadits kita adalah Qur’an dan hadits mereka juga
Hanya saja kita tenggelam dalam seribu bias sambil bertopang

Jika aku mengeluh pada-Mu, Yaa Allah….
Maka keluhanku yang pertama adalah….
Usirlah segenap ragu yang bersarang di dadaku
Tanamkan dalam jiwaku kokoh imannya ABU BAKAR
Lelaki yang selalu jujur dan membenarkan menjawab
Taat pada segala yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya
Hidupnya bergairah jihad dan amal bakti semata

Jika aku mengeluh pada-Mu, Rabb….
Maka harapku yang kedua adalah…
Bakarlah watak pengecut dalam hatiku,
Berilah aku anugrah bobot imannya UMAR AL-FARUQ
Yang selalu berang dan bersikap tegas terhadap setiap kebathilan
Sebagai khalifah ia tak pernah tidur nyenyak,
selama nyanyian lapar masih terdengar
Lelaki agung dan perkasa lagi sederhana
Sedang dua raksasa dunia takhluk di bawah kekuasaannya

Jika aku mengeluh pada-Mu Yaa Ghaniy….
Maka pintaku yang ketiga…..
Jauhkan aku dari watak kikir
Tularkan padaku kedermawanan UTSMAN DZONNURAINI

Dan masih ada yang kiminta Yaa Allah…
Jadikan aku secerdas Ali,
Sahabat kesayangan Nabi
Dengan bobot iman dan ilmu pengetahuan yang tak perlu disangsikan lagi

Juga rindu pada sahabat-sahabat Nabi lainnya yang tak terkira banyaknya
Rinduku adalah rindu cinta pada mereka
Rindu bangkitnya generasi mereka dalam kurun abad ini…..

dari : bulletin kepemudaan
Selengkapnya...

Surat Terbuka Untuk Para Ukhti

Kadang hati ini diliputi gundah, ketika dakwah tengah memasuki era sya’bi tak dapat dipungkiri bahwa hal ini juga mempengaruhi pola interaksi kita pada masyarakat. Kita --para da’i— dituntut untuk dapat mentransformasikan nilai-nilai Islam dengan bahasa yang dapat difahami oleh masyarakat berbagai kalangan dan usia, apakah itu lelaki ataupun wanita. Segi positifnya adalah para da’i tumbuh menjadi sosok yang begitu dekat dengan masyarakat sehingga mereka tidak begitu mengalami hambatan dalam menyampaikan nilai-nilai kebenaran sebagaimana awwalun mereka yang sering kali mengalami kesulitan dalam berdakwah karena dicurigai membawa pahan atau aliran yang menyesatkan. Meskipun dapat kita lihat perbedaan kualitas penerus yang mereka bentuk. Tapi bukan kualitas penerus masing-masing generasi pelaku dakwah ini yang ingin saya bicarakan.

Yang membuat gundah itu sering hadir adalah ketika saya dengan sangat mudah mendapati wajah saudari-saudari seiman yang saya cintai di dunia maya, yang tentu saja tidak hanya diakses oleh kaum hawa. Jika akhwat-akhwat era 90’an begitu kalang kabut mengatahui fotonya tercecer di tempat umum, akhwat era sekarang malah dengan sadar mencecerkannya di tempat umum (situs-situs jaringan persahabatan misalnya). Mungkin saudari-saudariku yang dicintai Allah itu tidak bermaksud “memamerkan diri” dan saya yakin insyaAllah niat mereka tidak jelek, namun tidak semua orang menyambut niat yang baik dengan respon yang baik juga. Mengingat tidak semua orang yang mengakses internet itu faham akan keutamaan menahan pandangan, pun yang telah faham tidak menutup kemungkinan melakukan kekhilafan karena mereka hanya manusia biasa dan karena syaitan akan selalu mencari celah untuk menikung manusia, mereka tidak akan pernah berhenti menggoda anak adam.
Ukhti fillah, tidak menutup kemungkinan orang-orang yang tidak bertanggung jawab di luar sana menikmati wajah manismu. Bahkan ketika jelas Firman Allah :
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman : “Hendaklah mereka menahan pandangannya” (An – Nur: 30).
Mereka; para ikhwan adalah saudara kita dan sesama saudara seiman tentunya kita harus saling menjaga. Dengan menjaga diri kita, itu juga membantu mereka. Ukhti fillah ketahuilah bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda :
“Sesungguhnya perempuan itu apabila menghadap, ia menghadap bersama-sama dengan setan. Dan jika ia membelakang, ia membelakang bersama- sama setan”.
Bukan berarti kaum hawa itu sama dengan setan, sabda Rasul ini menjelaskan bahwa setiap bagian dari perempuan itu menarik, dipandang dari sisi manapun perempuan memiliki keistimewaan yang jika para laki-laki tak menahan pandangan dan hati mereka, melihat perempuan bisa jadi membawanya pada jalan setan atau minimal menotori hati mereka karena terbayang wajah manis yang dilihat. Tentu kita tidak mau menjadi penyebab jatuhnya saudara kita itu pada jalan setan kan…?!?!
Kalau para ikhwan kelewat sering melihat foto akhwat-akhwat yang mengudara di dunia maya, bisa-bisa rusak hati mereka karena keseringan melihat yang tidak berhak dilihat. Lagipula tidak ada kepentingannya toh melihat foto-foto itu…?!?! Ukhti fillah, yang perlu kita ingat adalah bahwa kelak para ikhwan itu akan menjadi suami teman sehalaqoh kita, suami sahabat kita atau saudara kita yang kita cintai karenaNya. Relakah kita jika suami orang-orang yang kita cintai (atau bahkan kelak menjadi suami kita) itu adalah sosok lelaki yang mengumbar (baca:tidak menahan) pandangannya…?!?! Tanyakan pada hati nuranimu…….


kamar biroekoe@ied el Adha 1426 H

Selengkapnya...

IDEALITA VS REALITA

Berfikir tentang idealita dan realitas yang ada sering kali membuat kepalaku penuh, serasa tak mampu lagi untuk berfikir. Bahkan belakangan membuat hati ini tergores, menorehkan luka. Idealita yang harusnya membuat setiap da’I optimis dalam membangun mimpi dan mewujudkan setepak demi setapak meraih kejayaan Islam, bagi sebagian orang justru dianggap sebagai ……. aahhh….entahlah, mungkin angan-angan kosong atau bahkan makhluk asing yang langka.“Realistis aja deh, ga usah muluk-muluk”, “aahh..ngerancang kegiatan bagus-bagus juga yang dateng dikit…”, “akhwat sih belum ngerasa’in jadi ummahat, ntar klo dah jadi ummahat biar tau rasanya……”(ketika ada akhwat yang memberi kritikan tentang “hilangnya” mereka pasca menikah) dan bermacam-macam statement senada yang konotasinya sama, menyuruh kita berfikir untuk bertindak sesuai dengan realitas lapangan saja. Memang di satu sisi ada benarnya, sebuah realitas mmng tidak dapat dipisahkan dalam merencanakan sebuah perubahan tapi bukan untuk menjadikan sebuah kata bernama “realitas” sebagai kambing hitam untuk tidak memaksimalkan ikhtiar dalam berdakwah bukan…?!?!

Idealita dan optimisme bagi seorang da’I adalah hal yang harus ditanamkan dalam hati. Karena tanpa itu, seorang da’I akan kehilangan energi. Bagamana tidak, di tengah jalangnya zaman saat ini pekerjaan yang harus dilakukan seorang da’I untuk meyeru pada kebaikan adalah hal besar. Seorang dai’I adalah arsitek bagi perubahan zaman. Jika ia tak punya konsep ideal dan optimisme untuk mewujudkannya, maka ia akan sangat mudah lelah dalam mengerjakan pekerjaan besarnya. Bahkan tidak menutup kemungkinan ia putus asa dan pergi meninggalkan pekerjaan mulia itu, na’udzubillah.

Apakah idealita hanya sebuah angan..??? Tidak!! Idealita itu bukan hanya mimpi yang tidak akan pernah dapat diwujudkan!! Karena Islam mengajarkan kita untuk membangun masa depan Islam dan mewarnainya dengan kegemilangan atas dasar Idealita. Bukankah Allah telah berjanji bahwa kemenangan adalah milik Islam, kita harus meyakini hal itu. Wahai para da’I, akankah kau biarkan idealita itu tertelan oleh realitas zaman yang semakin carut marut?! Bukankah itu adalah tugas kita, merubah realitas zaman yang menyedihkan ini menjadi sebuah idelaitas peradaban yang gemilang…?! Buktikan azzammu dengan amal, wahai para da’i…..!!!!


Untuk sahabat yang tengah terluka; Kita akan coba sekuat tenaga untuk buktikan tdk dengan kata2, melainkan dengan segenap amal menuju idealita yang bagi sebagian dari kita mungkin hanya isapan jempol tapi bagi kita bukanlah seperti itu, all with proses.


Selengkapnya...