"selamat membaca tulisan yang disuguhkan tuk semua pembelajar sejati yang mengunjungi blog sederhana ini, thank's for visiting my blog"
Tampilkan postingan dengan label Sekitar Kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekitar Kita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Maret 2009

Kali Ini Tentang Perempuan dan Anak (Part 1)

Hey guys....pernah denger ga tentang perdagangan orang? Nah loh, syereem kan orang diperdagangin?! Istilah kerennya sih trafficking. Yang sering nonton berita ato baca koran pasti pernah denger or baca deh.... Tapi dah pada tau belom sih bahayanya?? Check this out,guys!;)

Perdagangan Orang atau yang lebih kerennya disebut trafficking entu merupakan kejahatan kemanusiaan, ada juga kejahatan kemanusiaan lainnya yang ga kalah mengerikan. Namanya ESKA, bukan Surat Keputusan lho guys....tapi Eksploitasi Seks Komersial Anak. Dari namanya aja udah jelas kalo’ ini bener-bener kejahatan kemanusiaan yang paraah banget.
Di Indonesia sendiri korban trafficking seringkali digunakan untuk tujuan eksploitasi seksual, misalnya dalam bentuk pelacuran dan paedophilia. Meski gitu, trafiking dalam hal ini ga terbatas hanya pada bentuk eksploitasi seksual atau prostitusi, tapi mencakup juga berbagai bentuk kerja paksa atau kerja mirip perbudakan gitu deh – termasuk kerja dengan jeratan hutang, perkawinan kontrak atau pengantin pesanan, perkawinan usia dini, dan kerja-kerja yang memberikan gaji rendah, seperti di perkebunan, jermal, pekerja rumahtangga, pekerja restoran, tenaga penghibur, pengemis jalanan, dll. Sementara itu terdapat tiga bentuk eksploitasi seksual komersial terhadap anak, yaitu protitusi anak, pornografi anak, dan perdagangan anak untuk tujuan seksual.
Masih tingginya angka kemiskinan, pengangguran dan angka putus sekolah, rendahnya tingkat pendidikan truz tingginya kesenjangan ekonomi antar negara, bikin masyarakat Indonesia – khususnya perempuan anak, kian rentan terhadap trafficking dan ESKA. Hal ini kebukti dari meningkatnya jumlah korban trafficking.
Sebagai gambaran nih guys, pada tahun 2001 Konsorsiun Pembela Buruh Migran (KOPBUMI) mencatat, 74.616 orang telah menjadi korban trafiking. Sementara pada tahun 2006, UNICEF melansir adanya 100.000 perempuan dan anak Indonesia yang diperdagangkan, mayoritas sebagai pekerja seks. KBRI Malaysia selama tahun 2001 – 2004 menangani 8.876 kasus perdagangan perempuan. Selain kasus trafiking, data yang dikeluarkan UNICEF pada tahun 2006 juga mengindikasikan tingginya eksploitasi seksual komersial anak, di mana 30 persen pekerja seks di Indonesia adalah anak-anak (usia 10 – 18 tahun). dan 3 juta anak memiliki pekerjaan berbahaya.
Prostitusi anak, diperkirakan bakal terus meningkat selagi krisis ekonomi masih berjalan dan belum ada prasyarat yang menunjukkan adanya penurunan permintaan. Demikian juga perdagangan anak untuk tujuan seksual dan pornografi anak akan semakin meluas, mengingat kian terbukanya arus informasi global, dan meluasnya penggunaan teknologi internet (nah lho….yang suka liat dan cari-cari gambar gituan, bisa jadi tergolong orang yang menyebabkan semakin meningkatnya angka eksploitasi seks terhadap perempuan dan anak. Dosanya jadi dobel dunk?!).
Identifikasi terhadap latar belakang korban trafficking di beberapa daerah menunjukkan kalo’ korban trafficking kebanyakan adalah anak dan perempuan berusia muda, berasal dari keluarga miskin, berpendidikan rendah, merupakan korban perceraian atau kekerasan dalam rumahtangga, dan berasal dari daerah yang miskin informasi.
Ironis banget ya nasib mayoritas perempuan dan anak di negeri ini, guys.....pastinya pada penasaran pengen tau apa aja yang udah dikerjain pemerintah untuk menyelamatkan nasib para perempuan dan anak di negeri ini? Pantau terus blog sederhana ini, sering-sering berkunjung ya guys....;)
Selengkapnya...

Senin, 02 Maret 2009

Ponari dan Realitas Masyarakat

Fenomena pengobatan alternatif seperti dukun Ponari dan beberapa dukun cilik lainnya yang sering kita saksikan melalui layar televisi kita sungguh meresahkan. Betapa banyak orang-orang yang rela mengantri dengan resiko lemas bahkan mati terinjak-injak hanya untuk mendapatkan air yang konon berkhasiat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Sebenarnya pengobatan alternatif yang tidak sesuai syari’at dan secara logika juga tidak masuk akal sudah lama menjadi bagian yang sulit dihilangkan dari kultur masyarakat kita.

Fenomena ini bisa kita lihat dari dua sudut pandang, yakni dari segi syari’at dan dari segi sosial. Secara syari’at, tentu saja ini merupakan pekerjaan rumah yang sangat besar bagi para Arsitek Perubahan (baca:da’i). Tentu saja dalam Islam dikenal pengobatan alternatif yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.dan tentu saja tidak masalah jika yang digunakan oleh masyarakat adalah pengobatan alternatif yang tidak bertentangan dengan apa yang telah Allah tetapkan dan Rasulullah contohkan, tapi sayangnya kebanyakan pengobatan alternatif yang dipilih oleh masyarakat adalah yang mengancam aqidah mereka. Na’udzubillah, jika kesembuhan itu diperoleh dengan menggadaikan aqidah. Atau yang lebih parah lagi, jika karena pengobatan itu sang pasien malah tidak tertolong. Meninggal dengan menggadaikan aqidah tanpa ada kesempatan untuk bertaubat, nau’dzubillahi min dzalik.....
Secara sosial, fenomena masyarakat ini sangat erat kaitannya dengan potret kemiskinan yang dirasakan oleh sebagian besar masyarakat negeri ini. Kemiskinan yang disebabkan dzalimnya para pemegang kekuasaan, keserakahan pejabat-pejabat negeri ini, ketidak amanahan sebagian besar wakil rakyat di parlemen sana. Kemiskinan yang begitu menghimpit kehidupan mereka, sehingga membuat mereka berfikir ribuan kali untuk ke dokter atau bahkan puskesmas jika sakit dan memilih pengobatan alternatif yang lebih dapat dijangkau dari segi biaya dan jarak karena untuk mengganjal perut mereka saja mereka harus berjuang begitu keras.
Inilah potret kelam kemiskinan di negeri ini, yang mempunyai berbagai efek baik dalam kehidupan sosial kemasyarakatan atau dalam kehidupan spiritual. Apapun kita...kita adalah da’i kawan sebelum apapun kita. Dan pekerjaan-pekerjaan rumah yang berserakan di negeri ini adalah tanggung jawab kita, siapapun kita dan apapun profesi kita. Kita bisa membawa perubahan...perbaikan pada negeri ini. Mari..bekerja, berkarya dan terus beramal, kawan.....karena sekecil apapun jika kita lakukan secara terus menerus dan berkesinambunagan, apalagi jika banyak orang yang melakukannya tentu akan memberikan dampak yang luar biasa. Tapi jika orang lain belum melakukannya, jangan bersedih kawan, teruslah bekerja, berkarya dan beramal dengan ikhlas dan suatu saat engkau akan melihat keajaiban tersendiri disekitarmu......

Selengkapnya...

Kamis, 19 Februari 2009

Pemimpin; Cerminan Masyarakat

Bahasan mengenai “Ketersinggungan Anggota DPR RI” di Editorial Media Indonesia yang di tayangkan Metro TV tadi pagi menarik perhatianku yang belakangan cukup bosan dengan pemberitaan perihal kaum elite negeri ini yang seolah (atau memang) tidak punya etika.

Tapi bukan tentang moralitas pemimpin negeri ini yang ingin kucermati, karena rasanya rakyat negeri ini sudah mengetahui kelakuan mayoritas para anggota dewan yang “terhormat” itu. Korupsi, skandal dengan WIL, adu jotos di ruang sidang, dan segudang tindakan tak terpuji lainnya (dalam posisinya sebagai maupun di luar posisinya sebagai anggota DPR) telah menjadi “tontonan” keseharian rakyat negeri ini.
Inilah potret carut marut pemimpin negeri ini, kawan…. Tapi apakah semua ini murni kesalahan mereka? Bukankah kita, rakyat yang merupakan bagian dari kesatuan bernama Negara ini yang telah memilih mereka? Inilah cermin dari rakyat negeri, masyarakat kita, kawan… karena kualitas pemimpian negeri ini adalah cerminan kualitas masyarakat yang notebenenya adalah masyarakat yang telah memilihnya. Anggota masyarakat yang berkualitas tentunya tidak akan pernah memilih pemimpin yang tidak berkualitas. Mereka pasti akan melihat bibit, bebet dan bobot calon wakil rakyat yang dengan suaranya akan dihantarkan menuju sebuah institusi Negara yang menempatkannya sebagai pengmbil kebijakan untuk nasib anak-anak di negeri ini. Seorang anggota masyarakat yang mempunyai kualitas kepribadian yang mengesankan tentunya tidak akan memilih calon wakil rakyat yang tidak memiliki attitude, yang selalu menggunakan cara-cara premanisme sebagai alat kekuasaan.
Mari kita coba mengingat kembali, siapa orang yang kita pilih pada pesta demokrasi yang berlangsung lima tahun silam. Dan lihatlah bagaimana kinerja dan sikapnya selama lima tahun mengemban amanah yang kita percayakan pada mereka, apakah mereka termasuk anggota dewan yang bermasalah? Jika tidak, maka bersyukurlah ternyata mereka tergolong yang amanah, berusaha dengan sekuat tenaga untuk memperjuangkan kesejahteraan dan perbaikan bagi rakyat negeri ini. Tapi jika anggota dewan yang telah kita berikan kepercayaan melalui satu suara yang kita masukkan pada bilik suara ternyata termasuk dalam kelas Taman Kanak-kanak yang lebih sering masuk televisi bukan karena prestasinya tetapi karena dosa-dosa pengkhianatannya terhadap amanah rakyat, belum terlambat untuk memperbaiki kesalahan yang pernah kita lakukan. Masih ada waktu untuk melihat kembali calon-calon wakil rakyat yang ada saat ini, mencermati dan mengamati denga seksama, mana yang memiliki bibit, bebet dan bobot yang layak untuk dipilih.
Percayalah, kawan….golput (tidak memilih) bukan solusi dari keterpurukan negeri ini, negeri yang telah dibebaskan dengan darah para pejuang yang ikhlas. Mari kita bantu ibu pertiwi untuk bangkit dan menghapus air matanya dengan turut serta memilih pemimpin yang dapat dipertanggungjawabkan dunia maupun akhirat. Jangkan pernah patah arang akan kejayaan negeri ini. Dan bangkitlah, negeriku….karena harapan itu masih ada dan akan selalu ada. Harapan negeri ini sekarang ada di tangan kita, pada pilihan yang akan kita tetapkan pada pesta demokrasi yang akan segera dilangsungkan negeri ini.

Selengkapnya...

Jumat, 13 Februari 2009

Cantik Tapi Koq Pelit

Setiap kali melewati perempatan lampu merah dan melihat gepeng (gelandangan dan pengemis) aku selalu teringat sebuah moment ketika aku dan seorang teman berjalan di jembatan penyebrangan di dekat terminal Baranangsiang sepulang dari Kebun Raya Bogor pada sebuah sore yang teduh dan sejuk. Ketika melewati jajaran pengemis menuju jembatan penyebrangan dia merogoh sakunya dan memberikan uang kepada beberapa pengemis yang kami lewati, beberapa saat kemudian dia menyikut (atau mencubit?lupa...) sambil berkata; ”cantik-cantik koq pelit sih”. Shock juga sih dikatain pelit.....

Tentunya hak temanku untuk menilai aku pelit, tapi aku juga punya sikap yang harusnya juga dihargai dalam menghadapi fenomena sosial yang satu ini. Pastinya semua orang juga punya pendapat dan sikap yang berbeda-beda. Kita mungkin masih ingat wacana (atau rancangan Perda?) yang melarang untuk memberikan uang kepada pengemis di jalan-jalan, tentu saja wacana (atau rancangan Perda?) itu menimbulkan pro dan kontra. Aku sendiri termasuk yang pro pada wacana tersebut.
Banyak alasan yang mendasari keberpihakanku pada wacana (atau rancangan Perda?) tersebut. Pertama; meminta-minta adalah perilaku yang mencerminkan rendahnya harga diri seseorang. Bayangkan saja jika banyak warga negara kita yang mentalitasnya seperti itu padahal mereka masih bisa dan sanggup bekerja. Kedua; lebih baik memberikan kail daripada memberikan ikan, ketika kita memberi uang kepada pengemis di jalan-jalan maka sesungguhnya kita tengah menjerumuskan mereka pada sesuatu yang bernama kebergantungan kepada orang lain. Menjauhkan mereka dari kemandirian dan ketelatenan dalam berusaha. Ketiga; banyak di antara para pengemis itu ternyata orang yang berkecukupan, bukan orang yang kepepet udah ga bisa kerja lagi. Di kampungnya mereka punya rumah pribadi yang sangat layak huni, ada parabolanya pula...menggunakan perhiasan emas dan lain sebagainya. Jadi aku tidak ingin mengeluarkan uang sesen untuk orang yang salah atau setidak-tidaknya kurang tepat.
Memang mereka sendiri yang bertanggungjawab kepada Allah jika mereka melakukan kebohongan, tapi kita turut andil dalam membentuk mentalitas warga masyarakat yang tidak mandiri dengan memberi ikan bukannya kail. Rasanya akan lebih bermanfaat jika rupiah demi rupiah yang ingin kita berikan pada orang-orang yang membutuhkan itu dikelola oleh lembaga zakat atau apalah bentuk dan namanya agar lebih terorganisir dan penyalurannya lebih bermanfaat jika berbentuk modal usaha dengan bimbingan dan pemantauan yang baik sehingga mereka yang ingin kita bantu ini bisa lebih berdaya. Bukankah kebaikan yang terorganisir itu lebih baik daripada yang tidak? Dan bukankah dalam Islam juga diajarkan untuk memberi kail, bukan ikan?


”mengenang seorang teman yg mgkn udah lupa peristiwa ini"

Selengkapnya...

Rabu, 28 Januari 2009

Merampas Hak Orang Lain?

Pernah ga pas lagi ngantri truz tiba-tiba diserobot secara semena – mena dengan orang lain? Kalau ada yang belum pernah ngerasa, aku coba kasi tau gimana rasanya; keseeeeeel, sebeeeeeeel plus dongkol setengah mati!


Suatu hari aku terpaksa membayar tagihan telfon ku ke kantor pos besar, siang hari bolong dan belum makan siang. Di depanku ada dua orang yang mengantri, pas tiba giliranku tiba-tiba ada bapak berseragam dinas kesehatan yang nyerobot antrianku. Pastinya ga rela dunk klu hak aku dirampas gitu aja, jadi spontan aku nyeplos; ”maaf Pak, kaya’nya saya duluan deh yang antri” dengan nada yang kubuat sesopan mungkin meski dongkol luar binasa eh,luar biasa...hehe... Bukannya minta maaf, tuh bapak malah cuek aja dan langsung menyebutkan nomer telfonnya ke petugas kantor pos. Apa hendak dikata, petugasnya juga bukan belain aku eh....malah langsung melayani tuh bapak berseragam. Nyebelin banget kan? Seorang teman juga pernah bercerita penngalamannya ketika antri si sebuah restoran ternama, padahal waktu itu antrian begitu panjang tiba-tiba ada seorang pelanggan yang baru datang (berseragam polisi lengkap, entah apa pangkatnya), langsung pesan bebek panggang dan si pelayan restoran langsung memberikan apa yang dipesan.
Tapi aku bukan pengen curhat tentang rasa kesal yang aku rasain coz didzolimin, dianiaya... Coba kita cermati sikap bapak berseragam tadi dan petugas kantor pos. Ketika hak kita dirampas oleh orang lain, hampir bisa dipastikan kita akan protes agar kita bisa mendapatkan apa yang menjadi hak kita. Tapi ketika kita ada di posisi petugas kantor pos atau bapak berseragam itu, apa kita akan tetap berupaya untuk mengembalikan hak orang lain?
Jadi inget pas lagi beli sarapan tadi pagi, ketika aku sampai di warung langgananku, udah ada seorang remaja dan dua anak kecil yang antri duluan dan karena kakak pemilik warung lagi beli kertas makanan akhirnya kami menunggu cukup lama. Dan dua anak kecil tadi di minta oleh si remaja tadi untuk memanggilkan si kakak. Dua anak tadi pun pergi memanggil si penjual dan taukah kalian siapa yang lebih dulu dilayani? Bukan...bukan dua kakak beradik yang sudah antri lebih dulu, bukan anak kecil yang udah manggilin si kakak agar pelanggannya ga kabur. Apa karena mereka anak kecil sehingga orang dewasa punya hak yang lebih besar dibandingkan seorang anak kecil? Satu kali hak mereka dirampas hari ini.
Ketika tiba giliran mereka, eh....si kakak malah bertanya padakku, ”mbak mau beli apa?”. aku ga mau dunk merampas hak orang lain, anak kecil lagi.... jadi aku tolak dengan halus kebaikan si kakak, sekaligus mengadvokasi si kakak untuk lebih menghargai hak orang lain meskipun anak kecil. ”Yang duluan ngantri kan adek-adek ini kak, ambilin punya mereka aja dulu”. ”ga papa koq, mereka keponakan kakak”, nah loh apa hubungannya gumamku dalam hati? Setengah mendesak aku meminta agar anak kecil itu didahulukan tapi tetap saja yang dilayani lebih dulu. Kali kedua hak anak-anak itu dirampas hari ini.
Begitu banyak potret perampasan hak di negeri kita ini, kawan... Mungkin itu terjadi karena contoh yang diberikan oleh para pemimpin negeri ini. Orang tua yang seharusnya jadi panutan malah memberikan pelajaran yang buruk pada orang yang lebih muda, terlebih lagi beliau orang ”berseragam” yang bisa dikategorikan orang yang berpendidikan tapi malah ga punya attitude. Sedangkan petugas kantor pos yang sebenarnya punya wewenang mengembalikan yang seharusnya menjadi hak pelanggan yang lain malah melakukan justifikasi perampasan hak yang terjadi di depannya. Pemimpin yang harusnya jadi kebanggaan rakyatnya malah memberikan kontribusi negatif bagi generasi penerus bangsa. Perampasan hak yang merupakan kejahatan lama kelamaan menjadi pemandangan sehari-hari dan terjadi di semua kalangan, akhirnya menjadi suatu hal yang biasa dan bisa dimaklumi. Dapat dipastikan yang lebih lemah pasti menjadi korban. Sekarang tinggal kita yang memilih, akan ikut dalam arus yang ada atau mencoba bersikap adil sekecil apapun peran kita? Perubahan itu ada di tangan kita; kamu dan aku, kawan.....

Selengkapnya...

Senin, 26 Januari 2009

Jujur; Bukan Barang Langka!

Lagi di lampu merah, gerimis rasanya tak kunjung reda..ku ambil saputangan untuk menutupi wajah. Dua orang anak kecil sibuk menjajakan koran di tengah rintik hujan, mereka berlalu menjauhiku..mencoba menawarkan dagangannya pada kendaraan di belakangku. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka sudah berada di depanku sambil menyodorkan selembar uang lima ribuan, sambil berkata; ”Mbak, uangnya jatuh”.

Lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau, aku pun segera berlalu sambil mengucapkan terima kasih pada adik yang mengembalikan uangku yang terjatuh saat mengambil sapu tangan dari saku jaketku. Aku kemudian berfikir, ternyata masih banyak juga orang yang jujur. Padahal adik tadi bisa saja mengambil uang yang terjatuh itu tapi dia lebih memilih mengembalikannya padaku, kondisi ekonomi yang mungkin tidak begitu baik mungkin bisa jadi justifikasi.
Aku hanya bisa membalas kebaikan adik tadi dengan doa, agar dia mendapatkan rezaki dari arah yang tidak disangka-sangka dengan cara yang istimewa dan dengan jumlah yang tak terkira untuk ukurannya,amiin.... Pastinya, hanya Allah yang dapat mengganjar setiap amal kebaikan yang kita lakukan, sekecil apapun dengan balasan yang sepadan dengan keikhlasan kita melakukannya.

Selengkapnya...

Sabtu, 26 Agustus 2006

Pengamen Yang Bersemangat

Sontak aku menurunkan buku yang tengah kubaca, suara lantang seorang wanita yang mengamen tepat di depan toko membuyarkan konsentrasi. Detik selanjutnya, wanita itu kemudian menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar pasar. Entah karena suaranya yang lantang dan bersemangat atau karena lirik lagu yang dinyanyikannya. Dari irama yang didendangkan dan dari kecrek-an yang ditepuk-tepuknya, aku yakin wanita itu tengah menyanyikan lagu dangdut. Jujur saja, aku sangat tertarik pada bait-bait lagu yang dinyanyikannya; bercerita tentang jalangnya zaman dan kemaksiatan yang meraja. Heey….kurasa muatan lagunya bagus juga, mengajak para pendosa dan pelaku maksiat untuk bertobat sebelum Allah murka dan memasukkan mereka ke neraka.


Sepeninggal pengamen itu aku berfikir, kalo’ bisa merekrut pemuda-pemuda yang berprofesi sebagai pemusik jalanan pasti seru. Mereka bisa berdakwah lewat lagu yang mereka nyanyikan atau seru juga tuh klo ada ikhwan yang punya nyali ngamen di bis-bis untuk kampanye-misalnya.

Subhanallah….meski pengamen tadi dikatakan tidak begitu sempurna akalnya –kurang waras—tapi bisa menyampaikan kritik sosial, lalu di mana nurani pejabat-pejabat kita ketika melihat kemaksiatan itu di depan mata..?! Dan semoga kita –yang katanya lebih waras— selalu punya nyali untuk mengatakan bahwa yang haq itu adalah haq sedangkan yang batil itu adalah batil.
Selengkapnya...

Minggu, 20 Agustus 2006

Gapura dan Realitas Masyarakat

Seperti tahun kemaren, peringatan hari Kemerdekaan Republik Indonesia memberi nuansa “pesta rakyat” yang meriah. Begitu juga dengan di Pontianak, ada sebuah lomba yang dilakukan dalam rangka 17’an ini; lomba gapura hias.


Gapura yang dinilai paling bagus akan keluar sebagai pemenang. Berbagai model dan kreasi gapura dibuat, dari yang sederhana sampai yang terkesan “wah” dan tentu saja gapura yang dibuat menjadi simbol kondisi masyarakat yang tinggal di lingkungan itu. Entah berapa dana yang dikeluargan warga untuk urunan (baca: sumbangan) mendirikan gapura tersebut –miris klo dibandingkan dengan perolehan hasil sumbangan untuk agenda-agenda dakwah atau hari besar Islam—dan tentu saja kondisi ini sangat bertolak belakang dengan kondisi riil di masyarakat. Bagaimana mungkin kita bisa saingan bikin gapura secantik mungkin tapi jauh di pemukiman Telaga Biru banyak anak-anak yang tidak bisa melanjutkan sekolah karena tidak mempunyai biaya, jauh di daerah Kuala Dua dan daerah lainnya para wanita kepala keluarga (baca: janda) bersusah payah mempertahankan kelangsungan hidup diri mereka dan anak-anaknya. Lalu di mana letak pemerataan pembangunan, di mana letak keadilan…?! Kini saatnya melayani negeri..!!! –tema 17’an DPC --
Selengkapnya...

Senin, 12 Juni 2006

Masa Kecil, Masa Bahagia…..?!

Perjalanan panjang dari Bogor menuju Bandung membuatku tak begitu bersemangat lagi menikmati indahnya pemandangan alam yang terhampar di luar jendela bis. Sayup-sayup terdengar anak kecil dengan suara yang masih agak pelat bernyanyi diiringi kecrek-an. Aku juga ga gitu hafal syair lagu yang dinyanyikan pengamen cilik itu, aku hanya tau kalo’ lagu itu di populerkan oleh Titiek Puspa dan sering ku dengar dalam iklan sinetron di salah satu televisi swasta “Kupu-kupu Malam”, kalo’ ga salah itu judul lagunya.Setelah menyelesaikan reff lagu tersebut, ia melanjutkan pada lagu selanjutnya yang aku tak tau judulnya tapi dari irama yang ku dengar sepertinya lagu dangdut. Innalillah….syair-nya genit buangeet! Entahlah….apakah si pengamen cilik itu mengerti atau tidak arti dari syair-syair lagu yang ia nyanyikan, tapi hati ini terasa begitu teriris. Sedih karena di usia yang begitu dini, ia harus susah payah turun-naik bis untuk mengamen demi mendapatkan tambahan uang. Sedih karena harusnya di usianya sekarang, ia mulai menghafalkan huruf hija’iyah atau do’a-do’a harian tapi….ia justru lebih hafal syair lagu yang membuat-ku sakit perut mendengarnya.

Jika mengingat masa kecil sering kali membuat kita tersenyum sendiri karena masa itu adalah salah satu masa yang membahagiakan, begitu pula masa kecil buatku. Aku masih ingat saat masih kecil, setiap sore bapak mengajakku jalan-jalan menggunakan motor ke alun-alun Kapuas atau ketika duduk di bangku Taman Kanak-kanak, saat merayakan milad ke-5 dengan membawa kue ke sekolah. Hal menyenangkan lainnya yang masih ku ingat adalah saat SD, pulang ke kampung halaman orang tuaku di Baturetno dan menghabiskan liburan bersama mas-masku tercinta; bercanda, berkejaran, bermain petak umpet, jajan sate bareng om di pasar, mendapatkan hadiah-hadiah dari adik-adik ibu atau bapak-ku coz jarang banget bisa ketemu ponakan mereka, sampai ngeledek-in mbah yang (penampilannya terlihat aneh bagi kami saat itu) jualan gorengan di emperan toko yang tutup selepas maghrib.

Tapi tidak untuk pengamen cilik itu dan entah berapa banyak lagi anak-anak yang kurang beruntung di luar sana. Maka bersyukurlah, teman…. Atas cinta yang diberikan oleh kedua orang tua kita, meski ekspresi cinta itu kadang tak seperti yang kita harapkan. Bersyukurlah atas rizki yang Allah titipkan melalui orang tua kita sehingga meski tak hidup mewah tapi kita masih bisa tumbuh dengan normal dan di karuniakan hidayah olehNya. Bersyukurlah atas saudara-saudara yang menemani kita bermain dan bercanda meski terkadang mereka menyebalkan. Bersyukurlah dan teruslah bersyukur teman, atas apa yang telah engkau nikmati sejak kecil hingga sampai menjadi sebesar ini….. Wallahu’alam wastaghfirullah.
laut_biroe@perjalananBogor-Bandung,270506
Selengkapnya...

Rabu, 07 Juli 2004

Surat Terbuka Untuk Para Ukhti

Kadang hati ini diliputi gundah, ketika dakwah tengah memasuki era sya’bi tak dapat dipungkiri bahwa hal ini juga mempengaruhi pola interaksi kita pada masyarakat. Kita --para da’i— dituntut untuk dapat mentransformasikan nilai-nilai Islam dengan bahasa yang dapat difahami oleh masyarakat berbagai kalangan dan usia, apakah itu lelaki ataupun wanita. Segi positifnya adalah para da’i tumbuh menjadi sosok yang begitu dekat dengan masyarakat sehingga mereka tidak begitu mengalami hambatan dalam menyampaikan nilai-nilai kebenaran sebagaimana awwalun mereka yang sering kali mengalami kesulitan dalam berdakwah karena dicurigai membawa pahan atau aliran yang menyesatkan. Meskipun dapat kita lihat perbedaan kualitas penerus yang mereka bentuk. Tapi bukan kualitas penerus masing-masing generasi pelaku dakwah ini yang ingin saya bicarakan.

Yang membuat gundah itu sering hadir adalah ketika saya dengan sangat mudah mendapati wajah saudari-saudari seiman yang saya cintai di dunia maya, yang tentu saja tidak hanya diakses oleh kaum hawa. Jika akhwat-akhwat era 90’an begitu kalang kabut mengatahui fotonya tercecer di tempat umum, akhwat era sekarang malah dengan sadar mencecerkannya di tempat umum (situs-situs jaringan persahabatan misalnya). Mungkin saudari-saudariku yang dicintai Allah itu tidak bermaksud “memamerkan diri” dan saya yakin insyaAllah niat mereka tidak jelek, namun tidak semua orang menyambut niat yang baik dengan respon yang baik juga. Mengingat tidak semua orang yang mengakses internet itu faham akan keutamaan menahan pandangan, pun yang telah faham tidak menutup kemungkinan melakukan kekhilafan karena mereka hanya manusia biasa dan karena syaitan akan selalu mencari celah untuk menikung manusia, mereka tidak akan pernah berhenti menggoda anak adam.
Ukhti fillah, tidak menutup kemungkinan orang-orang yang tidak bertanggung jawab di luar sana menikmati wajah manismu. Bahkan ketika jelas Firman Allah :
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman : “Hendaklah mereka menahan pandangannya” (An – Nur: 30).
Mereka; para ikhwan adalah saudara kita dan sesama saudara seiman tentunya kita harus saling menjaga. Dengan menjaga diri kita, itu juga membantu mereka. Ukhti fillah ketahuilah bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda :
“Sesungguhnya perempuan itu apabila menghadap, ia menghadap bersama-sama dengan setan. Dan jika ia membelakang, ia membelakang bersama- sama setan”.
Bukan berarti kaum hawa itu sama dengan setan, sabda Rasul ini menjelaskan bahwa setiap bagian dari perempuan itu menarik, dipandang dari sisi manapun perempuan memiliki keistimewaan yang jika para laki-laki tak menahan pandangan dan hati mereka, melihat perempuan bisa jadi membawanya pada jalan setan atau minimal menotori hati mereka karena terbayang wajah manis yang dilihat. Tentu kita tidak mau menjadi penyebab jatuhnya saudara kita itu pada jalan setan kan…?!?!
Kalau para ikhwan kelewat sering melihat foto akhwat-akhwat yang mengudara di dunia maya, bisa-bisa rusak hati mereka karena keseringan melihat yang tidak berhak dilihat. Lagipula tidak ada kepentingannya toh melihat foto-foto itu…?!?! Ukhti fillah, yang perlu kita ingat adalah bahwa kelak para ikhwan itu akan menjadi suami teman sehalaqoh kita, suami sahabat kita atau saudara kita yang kita cintai karenaNya. Relakah kita jika suami orang-orang yang kita cintai (atau bahkan kelak menjadi suami kita) itu adalah sosok lelaki yang mengumbar (baca:tidak menahan) pandangannya…?!?! Tanyakan pada hati nuranimu…….


kamar biroekoe@ied el Adha 1426 H

Selengkapnya...

IDEALITA VS REALITA

Berfikir tentang idealita dan realitas yang ada sering kali membuat kepalaku penuh, serasa tak mampu lagi untuk berfikir. Bahkan belakangan membuat hati ini tergores, menorehkan luka. Idealita yang harusnya membuat setiap da’I optimis dalam membangun mimpi dan mewujudkan setepak demi setapak meraih kejayaan Islam, bagi sebagian orang justru dianggap sebagai ……. aahhh….entahlah, mungkin angan-angan kosong atau bahkan makhluk asing yang langka.“Realistis aja deh, ga usah muluk-muluk”, “aahh..ngerancang kegiatan bagus-bagus juga yang dateng dikit…”, “akhwat sih belum ngerasa’in jadi ummahat, ntar klo dah jadi ummahat biar tau rasanya……”(ketika ada akhwat yang memberi kritikan tentang “hilangnya” mereka pasca menikah) dan bermacam-macam statement senada yang konotasinya sama, menyuruh kita berfikir untuk bertindak sesuai dengan realitas lapangan saja. Memang di satu sisi ada benarnya, sebuah realitas mmng tidak dapat dipisahkan dalam merencanakan sebuah perubahan tapi bukan untuk menjadikan sebuah kata bernama “realitas” sebagai kambing hitam untuk tidak memaksimalkan ikhtiar dalam berdakwah bukan…?!?!

Idealita dan optimisme bagi seorang da’I adalah hal yang harus ditanamkan dalam hati. Karena tanpa itu, seorang da’I akan kehilangan energi. Bagamana tidak, di tengah jalangnya zaman saat ini pekerjaan yang harus dilakukan seorang da’I untuk meyeru pada kebaikan adalah hal besar. Seorang dai’I adalah arsitek bagi perubahan zaman. Jika ia tak punya konsep ideal dan optimisme untuk mewujudkannya, maka ia akan sangat mudah lelah dalam mengerjakan pekerjaan besarnya. Bahkan tidak menutup kemungkinan ia putus asa dan pergi meninggalkan pekerjaan mulia itu, na’udzubillah.

Apakah idealita hanya sebuah angan..??? Tidak!! Idealita itu bukan hanya mimpi yang tidak akan pernah dapat diwujudkan!! Karena Islam mengajarkan kita untuk membangun masa depan Islam dan mewarnainya dengan kegemilangan atas dasar Idealita. Bukankah Allah telah berjanji bahwa kemenangan adalah milik Islam, kita harus meyakini hal itu. Wahai para da’I, akankah kau biarkan idealita itu tertelan oleh realitas zaman yang semakin carut marut?! Bukankah itu adalah tugas kita, merubah realitas zaman yang menyedihkan ini menjadi sebuah idelaitas peradaban yang gemilang…?! Buktikan azzammu dengan amal, wahai para da’i…..!!!!


Untuk sahabat yang tengah terluka; Kita akan coba sekuat tenaga untuk buktikan tdk dengan kata2, melainkan dengan segenap amal menuju idealita yang bagi sebagian dari kita mungkin hanya isapan jempol tapi bagi kita bukanlah seperti itu, all with proses.


Selengkapnya...