Aku bingung ketika seorang teman di departemen Kebijakan Publik mengatakan bahwa senyumku tidak seceria seperti biasanya. “Anti sakit ya..?” tanya temanku kemudian, Ku gelengkan kepala dan kupertegas dengan sebuah kalimat singkat : “ga kok”. “Kirain anti sakit, abis senyumnya ndak seceria biasanya”. Aku hanya menanggapi pernyataannya dengan tersenyum sambil coba merasakan senyumanku sendiri, apakah benar bahwa senyumku hari ini berbeda dari hari-hari biasanya; ga ceria. Ternyata emang ada rasa yang berbeda di hati ketika aku tersenyum, mungkin hal itu yang menyebabkan efek senyumanku tak seindah warna aslinya.
Aku melewati session pembukaan agenda progress report KAMDA sembari berfikir apa penyebabnya. Aku mencoba merunut kejadian yang terjadi selama satu pekan ini, aktivitas ku rasanya tak begitu padat, yup! aktivitas fisik ku pekan ini tidak begitu memforsir energi kecuali aksi penutupan penggalangan dana untuk korban gempa Jogja dan JaTeng yang ku ikuti kemarin. Meski tidak mengikuti aksi yang di lakukan dengan long-march itu secara penuh, tapi karena sudah hampir sebulan ini ga riyadhoh jadi lumayan ngos-ngosan juga meski ga sampe tepar sih. Mungkin ini salah satu faktornya.
Ku susuri lagi jejak-jejak aktivitas lainnya, nothing special. Tapi memang pekan ini banyak hal yang kufikirkan; rencana magang, info beasiswa S-2, mutasi liqo’ selama magang, binaan, pergantian pengurus di Mizan, sahabatku yang sedang dalam proses ta’aruf (terbayang jika dia menikah tepat saat aku magang, betapa sedihnya ga bisa menyaksikan hari paling bersejarah untuknya… L), amanah-amanah yang akan kutinggalkan selama magang, dan ……….. (hal yang ga bisa dituliskan, karena very personal). Apalagi ku lihat tilawahku ga mencapai komitmen, pantesan aja….
Gimana ga tepar kalo’ kaya’ gini, beban fikiran se-abreg tapi back up ruhiyahnya ga maksimal. Teringat bahwa keimanan itu terpancar lewat wajah. Rasanya kondisi ruhiyah seseorang juga akan sangat mempengaruhi aura yang dipancarkan oleh seorang mukmin. Wah…musti berkejaran nih..!!! Ingat Des, syurga itu tidak diraih dengan bersantai-santai! Tapi syurga di raih dengan jiddiyah dan tadhiyah, karena syurga itu mahal…!!! Keep Fight and keep smile ya Des….!!!!
laut_biroe@dialog batinku menyemangati diri sendiri,110606
Selengkapnya...
Minggu, 11 Juni 2006
Senyum Anti Tak Seceria Biasa
Sabtu, 10 Juni 2006
Pembangkit Listrik dan Pasokan Energi
Tentunya semua orang pernah melihat sebuah pembangkit tenaga listrik, setidaknya melalui televisi. Kalaupun tidak pernah melihatnya, saya yakin hampir semua orang pernah merasakan pasokan energi yang dialirkan oleh pembangkit tenaga listrik. Sebuah pembangkit tenaga listrik menghasilkan pasokan energi listrik yang akan dialirkan menuju gardu-gardu dari gardu-gardu itulah listrik kemudian di alirkan ke rumah-rumah dan dapat dinikmati oleh pengguna (konsumen), begitulah singkatnya (meskipun sebenarnya tidak se-sederhana itu).
Makin besar volume listrik yang ada maka semakin besar kemanfaatannya. Pembangkit tenaga listrik, menjadi pasokan langsung maupun tidak langsung bagi gardu dan rumah. Sedangkan gardu menjadi pasokan langsung listrik untuk rumah-rumah.
Begitupun dengan kapasitas seseorang, semakin besar volume kualitasnya maka akan semakin besar kemanfaatannya bagi orang banyak. Ketika kita masih menjadi konsumen yang menikmati manfaat dari banyaknya volume yang dimiliki orang lain, apakah membuat kita puas? Bukankah manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain..?! Lalu kenapa kita merasa cukup puas hanya sebagai konsumen, selalu menerima kebaikandari orang lain?! Kenapa kita mencoba meningkatkan kapasitas, menambah volume kita?
Ada orang yang pendidikannya tinggi tapi kontribusinya untuk umat sangat sedikit tapi di sisi yang lain ada orang yang pendidikannya tidak begitu tinggi tapi banyak hal yang bisa dilakukannya untuk umat. Jika dikatakan bahwa pemimpin itu dilahirkan dan dibentuk, maka ketika kita bukan tipe pemimpin semenjak kita dilahirkan, kita harus bisa membentuk diri kita menjadi seorang pemimpin. Bukan sekedar berada pada posisi pemimpin tapi mempunyai karakter pemimpin, karena tidak semua orang yang berada pada posisi itu berkarakter pemimpin.
Hendak membentuk diri menjadi pemimpin berarti harus meningkatkan kapasitas, meningkatkan volume. Apa yang kita baca dan dengan siapa kita berinteraksi, turun menentukan kapasitas kita. Tapi nilai-nilai positif yang kita dapat dari bacan dan teman dalam berinterkasi tidak akan membentuk kita jadi pemimpin jika kita tidak mengaplikasikannya dan menjadikannya sebuah kebiasaan. Dengan mengaplikasikan nilai-nilai positif dan menjadikannya sebagai kebiasaan, maka sedikit demi sedikit kapasitas kita akan meningkat, volume kita akan semakin besar. Kita tidak lagi hanya berperan sebagai konsumen yang pasif tapi kita dapat menjadi gardu yang menyalurkan energi listik ke rumah-rumah. Dan ketika kapasitas kita terus meningkat maka kita dapat menjadi pembangkit tenaga listrik. Menghasilkan energi dan menjadi bermanfaat bagi banyak orang.
Semoga kita termasuk orang – orang yang tak pernah bosan untuk belajar, karena ilmu yang kita miliki ibarat setetes air di lautan. Banyak sekali hal-hal yang belum kita ketahui. Semoga kita bukan termasuk segerombolan orang yang mudah patah arang dalam belajar, karena proses pembelajaran itu terkadang terasa begitu berat dan menyakitkan. Semoga kita bukan golongan orang – orang yang mudah puas dengan ilmu yang kita miliki, karena dengan puas dengannya kita akan merasa cukup dan saat itu kita akan berhenti belajar. Dan sering kali manusia sombong dengan ilmu yang dimilikinya –na’udzubillah-, padahal ilmu Allah jauh lebih luas. Wallahu’alam wastaghfirullah.
laut_biroe@proses pembelajaran agar lebih matang dalam berfikir dan bertindak, 100606
Selengkapnya...
Rabu, 26 April 2006
Hadiah dari Allah
Jam 07.00, seharusnya Titie dan Kak Fath udah ada di bandara saat ini karena pesawat yang akan membawa kami ke Jakarta untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Bandung akan take off 30 menit lagi. Hmm….akhirnya Titie muncul setengah tergesa; “Kak Fath ngisi dulu bentar di Hypermart, katanya sih barang-barangnya di bawa-in sama abang” katanya.
Waktu terus berputar, 07.20 tapi sosok yang dari tadi kami tunggu tak juga muncul. Akhirnya kuputuskan untuk check in duluan. Sampai waktu keberangkatan pesawat pun kakak-ku itu belum juga datang, dengan berat hati aku dan Titie menuju ke pesawat. Detik-detik terakhir pesawat akan take off, masih berharap teman kami muncul tapi ternyata kekhawatiran kami menjadi kenyataan; kak Fath ketinggalan pesawat. “Rabbi……masa’ ke Musyawarah Nasional PAHAM tanpa komandan sih, kita berdua kan anak baru…!!!”, begitulah kira-kira yang aku dan Titie rasakan.
Kurang lebih satu setengah jam kemudian kami tiba di Cengkareng, ponsel-nya Titie bunyi tandanya ada pesan yang masuk. “Kalian tunggu kakak di bandara ye, kakak naek pesawat yang jam 13.50”. Gubraaaakz deh….!! Kalo’ berangkat dari Pontianak jam 13.50, berarti sampe Jakarta jam 14.10-an, setengah hari nunggu di bandara. Yaah…tapi musti gimana lagi, inilah rekayasa Allah, nikmati aja…..
Abis sholat dhuha dan tilawah kami memutuskan untuk jalan-jalan sambil cari makanan coz bentar lagi waktu makan siang lagipula sejak tadi perut kami terasa keroncongan, atau dangdut-an ya.... laper euy…! Dari terminal C, kami mulai berjalan menyusuri bandara sambil melihat-lihat tempat makan yang menunya cukup terjangkau oleh kocek yang pas-pasan ini. Akhirnya pilihan jatuh pada rumah makan yang lebih sederhana ketimbang yang lain, pas liat daftar harganya mikir dua kali juga sih. Namun apa daya, perut tak mau diajak kompromi. Irama keroncong yang dialunkan makin keras, setelah diskusi sama Titie akhirnya kami putuskan untuk pesan satu porsi soto ayam dan dua piring nasi putih serta dua gelas teh es manis. Sambil ngikik kami mulai menikmati makan siang, cuex aja dengan “paket hemat” yang kami pesan.
Alhamdulillah….udah kenyang, adzan dzuhur sayup-sayup terdengar kami bersegera berkemas dan membayar makanan yang telah berpindah tempat ke perut kami. Lega rasanya setelah menemukan mushalla, selesai wudhu, aku mempersilahkan Titie untuk menjadi imam karena hafalan dan makhrajul hurufnya lebih baik dariku. Coz lagi dalam perjalanan, kami menjama’ sholat dan tepat di raka’at sholat ashar seseorang berdiri tepat disampingku, masbuk. Setelah ibu tadi menyelesaikan sholatnya, Titie menyapa ibu tadi: “maaf bu, tadi ibu ikut jama’ah sholat ashar”. Sang Ibu pun menyahut dengan ramah: “ga papa koq...”. Lalu ibu tadi mengulurkan tangannya sambil memperkenalkan diri : “Yoyoh Yusroh”. Setengah ga percaya, kalo’ ibu yang ada di depan kami ini adalah ustadzah Yoyoh Yusroh, dai’I yang menjadi panutan untuk muslimah pada khususnya.
Kami pun berbincang sejenak, ternyata beliau akan berangkat ke Semarang, sedang ada MUSDA di sana dan beliau menjadi salah satu pengisi acara. Beliau pun berniat mengunjungi anak bungsunya yang sedang ga enak badan, beliau juga menjelaskan bahwa anak beliau kelas tiga dan mondok di pesantren, menghafal Qur’an udah 10 juz lanjutnya lagi. “Udah mau ujian dunk, bu…?” tanyaku sok akrab. “Belum….baru kelas tiga SD”. Aku dan Titie hanya bisa berkata “subhanallah lalu ber”oooo” panjang. Aku dan Titie pun bertukar cerita, termasuk tentang berlama-lamanya kami dibandara. Karena beliau tau kami sedang menunggu teman yang ketinggalan pesawat, akhirnya beliau memberikan bekal yang dibawa. Masing-masing dari kami mendapat sebuah roti, kak Fath yang ketinggalan pesawat juga dapet titipan kue plus sekaleng susu coklat dingin. Waah…semua bekal-nya Ustadzah Yoyoh habis dikasi ke kami…!! Setelah berbincang, beliau pamit coz pesawat yang akan menghantarkan beliau ke Semarang akan berangkat. Setengah ga percaya juga rasanya, kulihat wajah Titie juga ga kalah kagetnya. Hilang sudah rasanya lelah menunggu sejak pagi. Terbang rasanya jenuh yang sedari tadi menghampiri. Kita berdua, aku dan Titie merasa surprise buangeet..!! Yup, inilah hadiah Allah untuk kami. Subhanallah….rekayasa Allah terasa begitu indah. Waktu yang tersisa untuk menunggu akhirnya kami habiskan dengan istirahat di mushalla sambil membahas “hadiah” yang telah Allah berikan kepada kami.
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”. Sering kali kita tidak mensyukuri apa-apa yang telah Allah berikan untuk kita karena kita tidak mengetahui rekayasa yang telah Allah ciptakan dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Jika kita selalu mensyukuri nikmat Allah, dalam kondisi apapun maka niscaya tak ada keluh kesah yang keluar dari lisan ini.
Rabb…jadikan kami dalam golongan orang-orang yang selalu mensyukuri segala sesuatu yang Engkau berikan, apapun itu….. Dan jangan jadikan kami hamba-hamba yang kufur atas nikmat yang telah Engkau berikan, padahal jika hendak menghitung tentu tak sanggup diri ini menghitungnya…..
laut_biroe@190506
Selengkapnya...
Tanpa Judul
Aku tak ingin memaksamu mendengarkan
jika memang kau sedang tak ingin mendengar
meski aku sungguh ingin berbagi cerita denganmu
Aku tak ingin memaksamu berkomentar
jika memang kau sedang tak ingin bicara
meski aku sangat ingin mendengar tanggapanmu
Aku tak ingin memaksamu berlari
jika memang kau sedang ingin diam
meski aku rindu sigap gerakmu
Aku tau kau lelah, begitupun aku
tapi aku tak ingin kita jadi sosok asing
semakin terluka dengan keterasingan yang kita ciptakan sendiri
Aku tau kau terluka, begitupun aku
tapi aku tak ingin kita semakin terpuruk
seperti bunga layu yang mati perlahan
Kini saatnya kita bangkit, sobat
biarlah rindu akan kenangan cinta itu kian menggelora
namun biduk dakwah ini harus tetap dikayuh
Jangan biarkan usainya membuatmu lemah
karena jalan ini kita pijak atas dasar keikhlasan
Jangan biarkan mulainya membuatmu luka
karena bersama siapapun, kita harus persembahkan yang terbaik untuk NYA
Pontianak, 240406
Cukup sudah keterlukaan itu, jangan biarkan ia terus menganga. Saatnya untuk kembali bersemangat, sobat..!!!
Selengkapnya...
Sabtu, 08 April 2006
Komit....!!
“Aku berjanji kepada Allah Yang Maha Agung untuk berpegang teguh pada Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya shalallahu’alahi wa salam, dan untuk menjaga dengan penuh amanah manhaj Partai dakwah beserta Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangganya serta siap melaksanakan putusan-putusannya walaupun bertentangan dengan pendapat pribadi, serta berjuang sekuat tenaga untuk mewujudkan tujuan yang luhur. Aku berbai’at utk itu semua, dan Allah sbg saksi atas apa yangg aku ucapkan”.
Kurang lebih begitulah isi bai’ah yang diucapkan oleh Ketua DPW PK Sejahtera Kalimantan Barat yang dilantik bersama Ketua Majelis Pertimbangan Partai dan Ketua Dewan Syari’ah dalam acara Pelantikan Ketua DPW terpilih pada Musyawarah Wilayah I PK Sejahtera Kalimantan Barat yang dilaksanakan di Rumah Adat Melayu, 1- 2 April 2006 lalu.
Tak terasa air mata ini menitik saat mendengar ustad-ustad di atas panggung yang tengah di ambil sumpah oleh Ustad Aus. Meskipun yang di ambil sumpahnya adalah beliau-beliau, tapi tetap saja sebagai bagian dari Partai Dakwah ini, bai’ah itu berlaku bagi semua kader dengan perannya masing-masing. MasyaAllah...begitu berat rasanya, apalagi jika mengingat-ingat kembali kinerja DPC-ku yang tak beraturan beberapa bulan terakhir.
Suara para ustad yang tengah di ambil sumpah memenuhi seluruh rongga telinga, terbayang di pelupuk mata, seorang Rasul pilihan, pengemban Risalah Mulia yang mengambil bai’ah terhadap beberapa sahabat di sebuah pohon. Rabb......mereka berjanji untuk komitmen terhadap Ad-Diin dan tentu saja komitmen itu menghasilkan konsekuensi-konsekuensi.
Istighfar lirih sahabat yang sekaligus Qiyadah-ku di DPC menyadarkan dan kembali membuat-ku dan juga sahabatku memikirkan hal yang sama; apa kontribusi DPC ke depan untuk mewujudkan targetan-targetan dakwah...?!?! Kami saling memandang, meski ia tak mengucapkan sepatah kata pun tapi aku tau bahwa ia tengah ber-azzam untuk memberi dan selalu berusaha memberikan ikhtiar terbaik untuk kemajuan dakwah meski sulit. Itu juga azzamku dalam hati. Rabb......kuatkan kami, kokohkan pijakan kaki ini dalam jalan dakwah-Mu, beri kami kesabaran dan keistiqomahan untuk selalu BERGERAK...!!!
Selengkapnya...
